Tampilkan postingan dengan label Untuk Kamu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Untuk Kamu. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Februari 2022

Mantra-mantra telah kamu hapal diluar kepala,
Bahwa terlalu berharap pada manusia adalah tidak bijaksana. 

Tapi manik matanya adalah magis
Dan kamu dibuat jatuh-sejatuh jatuhnya.
Lalu dengan penuh harap kamu berdoa akan sebuah selamanya. 

Kini yang tersisa hanya nada yang mengalun diantara bantal yang basah.
Hatimu yang remuk redam adalah sesal yang tak bisa dibayar.


Bintuni, 5 Desember 2021

Ibu, hari ini anakmu patah hati

Ibu, hari ini anakmu patah hati
Lagi-lagi ia berpikir betapa tidak layaknya ia untuk dicintai
Lagi-lagi ia kembali bertanya kenapa ia lahir dengan begitu banyak kekurangan diri

Ibu, hari ini anakmu patah hati
Tembok yang ia bangun tinggi tinggi harus dipecundangi ekspektasi
Laki-laki yang ia sungguh-sungguh sayangi memilih untuk pergi

Ibu, hari ini anakmu patah hati
Dihinggapi sepi, ia memeluk tubuhnya sendiri
Ia mencari lenganmu, tapi jauhnya tak tergapai

Bu, hari ini aku patah hati
mungkin sampai mati memang sebaiknya aku hidup sendiri

Bintuni, 5 Desember 2021

Sabtu, 10 November 2018

Aku yang tidak benar-benar diinginkan


Aku hanya seseorang yang tak sengaja datang, tidak pernah diperhitungkan.
Aku hanyalah pesan-pesan yang diabaikan, dicari ketika dibutuhkan.
Aku adalah tiket-tiket bioskop yang tak punya kesempatan, kencan yang tak pernah dilakukan.
Hanya figuran, iklan ditengah pertunjukan.
Pengusir bosan. Tak berkesan.

Minggu, 28 Oktober 2018


Sudah bulan ke 10, tapi Surabaya tiap hari makin panas. Sore itu tumben-tumbenan Surabaya mendung. Diam diam aku sudah membayangkan akan berboncengan denganmu dibawah jas hujan model bat, lalu aku terpaksa merapat biar gak basah basah banget. Hehe

Aku sudah dua kali bolak balik wastafel waktu menunggumu menjemputku.
Sekedar untuk mengecek apakah aku terlihat oke, rapih namun tidak berlebihan.

Percakapam kita sepanjang jalan, tidak pernah jauh-jauh dari buku.

Ini pertama kalinya kita nonton bioskop bareng, setelah 2 kali wacana yang gagal. Sedikit canggung karena genre filmnya romance. Untung kamu pintar mencairkan suasana dengan guyonan guyonan lucumu.  Tetap saja, waktu adegan kissing dan ena ena, aku bingung harus gimana. Yasuda  diam saja pura-pura biasa.


Sepanjang film kita banyak ngobrol, sesekali aku curi-curi pandang padamu. Karen jujur, binar matamu tiba-tiba jadi sesuatu yang tidak berani ku pandang. Kalau kamu sadar, aku selalu melihat ke arah lain waktu kita ngobrol.

Sepanjang nonton aku bingung sendiri mainin lengan bajuku. Grogi.

Sudah masuk waktu magrib, malah sebentar lagi hampir lewat. Kamu mengajak sholat. Aku yang sedang berhalangan nunggu saja di kursi depan ruang sholat.

Kamu waktu itu pake hoodie tanpa resleting. Sebelum wudhu kamu bilang nitip jaket.
Lalu didepanku, dengan entengnya, sambil nyopot jaket kamu bilang "tolong pegangin kaosku"
Ah.. lagi lagi aku salting dan malu sendiri. Aku, cewek 22 tahun, yg tiap hari dikelilingi cowok-cowok, tiba2 jadi gadis polos yang salting sendiri didepanmu.

Jujur, adegan megangin kaos yang ngga lebih dari satu menit itu, adalah hal termenggoda yang pernah dilakuin cowok padaku.
Aku sering dirangkul teman-temanku, aku pernah dipeluk teman-temanku, aku sering digombalin dan digodain teman-temanku. Dan aku biasa saja. Tapi denganmu, cuman megangin kaos saja, aku jadi salah tingkah sendiri.


Btw.. jaketmu wangi sekali. Tau aja kamu kalo aku suka cowok wangi hehehe..


Adegan megangin kaos berhasil kuatasi dengan coba ngelihat sekeliling selain badanmu. After effectnya yang ternyata bertahan lama. Saltingku nambah-nambah dan makin makin gak berani lihat matamu. Gak tau lagi ini mukaku udah kaya apa? Kepiting rebus barangkali?

Lalu kita jalan lagi.
Kamu mau pipis, dan aku nungguin lagi lagi sambil bawa jaketmu. Kali ini gak ada adegan megangin kaos lagi, fiuh, syukurlah.
Aku sempetin ke wastafel buat ngecek muka. Ah, biasa saja. Masih jelek.

Lalu kita jalan lagi, turun. Masih sambil ngobrol. Pas di eskalator, kamu berdirinya didepanku. Lhaa tiba-tiba kok ngadep ke belakang, yang mana itu ngadep aku. Ya Tuhan ya Tuhan ya Tuhan aku mesti gimana. Kita masih ngobrol, aku masih ngga berani lihat mukamu. Bisa dibayangkan betapa saltingnya aku???


Akhirnya sampe juga di parkiran. Lalu kita pulang. Diatas motormu aku senyum senyum sendiri. Wangimu. Candaanmu. Obrolan kita. Surabaya tiba-tiba jadi kota tercinta.

Terimakasih sudah mengantarkanku dengan selamat, bonus senyum-senyum sendiri. "Jangan lupa bintang 5 ya mba", candamu sebelum pamit.

Iya, ini buat Mas Minke. Yang sebelum nonton aku sendiri bilang ngga mau ada baper-baperan, eh taunya malah aku yang baper. Sendiri.



Selasa, 23 Oktober 2018

Aku ingin kamu menyukaiku secara wajar dan realistis,
Kamu harus paham betul bahwa aku bukan si gadis manis dalam sajak-sajak bikinan sang pujangga romantis nan melankolis,
Aku hanya gadis, yang jika tertawa seperti orang sesak napas, sedikit lebih keras
Aku bukan si gadis penjaga pola makan yang akan memarahimu hanya gara-gara mie instan.

Aku dibesarkan dengan kebiasaan harus menghargai makanan, jadi jangan heran jika pada kencan pertama kita nanti kamu lihat piringku bersih tanpa sisa sedikitpun, bukan karena aku kelaparan.
Kamu mungkin juga akan heran dengan porsi makanku yang bisa jadi hampir seperti kuli bangunan. Mungkin terlihat sangat kelaparan,

Nanti kamu akan sering mendapatiku acak-acakan, terlebih jika diatas jam 2 siang. Aku bukan gadis yang akan bolak-balik kamar mandi untuk mengecek apakah lipstiknya masih kelihatan.
Bukan, aku bukannya tidak ingin menjaga penampilan,
Terus terang, aku mohon kamu paham, aku belum akrab dengan mascara, blush on, eyeliner dan teman-teman.

Kalau kamu ajak nonton bioskop, mungkin tidak akan langsung ku iyakan,
Tapi kalau kamu ngajak naik gunung, aku akan ayo

Aku ingin kamu tahu bagaimana tidak menariknya diriku sehabis olah raga: kumal, jelek, berkeringat.
Atau ketika sedang supporteran tim futsal jurusan, aku akan berada di barisan depan, berteriak dengan suara cemprengku yang bisa dibilang cukup kencang,-sangat tidak anggun.

Apakah sekarang aku terlihat cukup maskulin?

Tenang, sayang.. aku tetap si gadis penyuka drama-drama romantis,
Aku paham bahwa kita tidak mungkin menggoreng telur sambil berpelukan, atau berkejaran dibawah guyur hujan,
Jadi romantis bagiku sederhana saja, boncengan naik motor malam-malam sambil dengerin lagu kesukaan,
Atau pergi ke perpustakaan lalu sibuk dengan masing-masing buku di tangan,

Tentang bagaimana caramu membuatku senang,
Aku tidak akan minta macam-macam,
Tidak perlu coklat atau eskrim, atau boneka, atau buket mawar,
Aku sudah akan senang sekali jika kamu mau memberiku kuning telur yang lagi kamu makan, atau kita tukeran: aku ngasih kamu bagian putihnya dan kamu ngasih aku kuningnya,
Tidak muluk-muluk bukan?

Aku mungkin akan sedikit menyebalkan, yaitu ketika sedang tamu bulanan,
Kalau sudah begitu, cukup kamu diamkan, nanti aku akan kembali tenang.

Nah sekarang, apa kamu masih akan tetap bertahan?
Aku harap kamu paham, bahwa aku gadis dengan begitu banyak ketidak sempurnaan dan kekurangan-kekurangan..



Sabtu, 13 Oktober 2018

Sekali saja dalam hidupku, aku ingin dia melihatku sebagai wanita.
Yang setidaknya pernah sedikit saja menggetarkan hatinya.
Yang pernah sekali saja mengusik malamnya.
Yang diam diam pernah ia puji rupanya.
Yang setidaknya pernah sekali saja ia pertimbangkan untuk jadi pendampingnya.

Sekali saja dalam hidupku, aku harap aku bukan aku.


Jumat, 22 Juni 2018

Rindu

silakan diseduh :) Rindu- Banda Neira 

Rumah kosong sudah lama ingin dihuni
Apa kabar hati? Yang hari-harinya pucat tanpa rona. Mungkin dia butuh sedikit kopi (atau lagu-lagu motivasi?).
Tengoklah, langkahnya lunglai, arahnya hilang.
Sayu matanya, kusut rambutnya, tidak tau dimana atau pada siapa harus berhenti.

Adalah teman bicara, siapa saja atau apa, siapa saja atau apa
Mungkin seorang teman, yang padanya ia merasa menemukan (atau ditemukan?), yang bukan suatu kebetulan garisnya bersinggungan.
Atau teman tadi, juga tak apa jika sekedar menawarkan tumpangan.  
Atau boleh jadi seekor camar, yang sekedar bertanya kabar.
Dinding pun, kalau memang ijinkan, barangkali dia akan numpang bersandar, cukuplah sebentar. 

Jendela, kursi, atau bunga di meja
Atau sebuah rumah. Yang padanya ia ingin selalu kembali setelah berkelana mencari diri.  Atau bahkan tidak ingin sama sekali pergi.
Dengan tiangnya menawarkan perlindungan. Dan berandanya menjanjikan kehangatan.
“Mungkin di ujung jalan itu” katanya.

Sunyi. Menyayat seperti belati
Coba tengok kantung-kantung bajunya. Mungkin di sana tersimpan jiwanya, usang dan berdebu. Debarnya samar-samar, menunggu ditemukan.  

Ia sedang rindu. Pada siapa tepatnya iapun tak tahu.
Mungkin di suatu senja, tibalah dia di ujung jalan itu. Kemudian akan datang seorang tamu- teman yang telah lama ia rindu.   
Pada waktunya yang kosong akhirnya terisi. Menunggunya tak perlu lebih lama lagi.

Jumat, 12 Januari 2018

I like Airport.
And train station.

The place where journey begin, or end.
The place where people letting go their loved, the goodbye hug.
I feel the crying, the feeling of longing someone in distance, the feeling of being apart.

The place where people finally meet each other.
I like to see people reunited, run to each other.
The stories that the mouth can't tell fast enough, the eyes that can't take in all of the change.
I like to see people hugging, the welcome hug, the whole-hearted hug, 
I feel the joy, the bringing together, the end of missing someone.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
But sometimes they just smile, for any reason.
Just smile to each other. Like us.

Then you asked "Apa kabar?"

Senin, 27 November 2017

Terimakasih, sudah sangat sabar meladeniku yang suka bertanya hal-hal tak masuk akal ini,
tentang apakah unicorn dan naga benar-benar ada, yang kamu jawab dengan "itu cuman mitos"

lalu aku bilang "itu pasti hutan terlarang, didalamnya tinggal Aragog sama Centaurus" sambil menunjuk hutan lebat sepanjang perjalanan waktu itu,
"iya ada Tyrex juga" katamu,
"kalo gitu Tyrex makannya apa" bahkan semua orang tahu Tyrex makan daging, tetap saja kutanyakan,
"Tyrex sekarang makan sayur, sudah menyesuaikan diri dengan globalisasi" terimakasih sudah menjawab dengan sangat tidak terduga,
"Loh tapi Tyrex kan karnivora"
"iya tapi udah ngga jaman kalo Tyrex makan daging, mau diet juga dianya"

Atau tentang "kenapa di Indonesia banyak hantunya", kemudian kamu menjawab "karena orang Indonesia suka ngomongin hantu" sebenarnya aku bingung apa hubungannya, jadi kutanya lagi "berarti di Indonesia banyak hantunya karena orang Indonesia suka ngomongin hantu?"
"iya begitu" lalu kita tertawa,

Juga tentang "isinya kelereng itu apa" yang ternyata kamu juga sama tidak tahunya "iya apa ya, aku juga penasaran" aku diam saja karena tidak tahu juga, lalu kamu melanjutkan "kayanya itu cuman material bening yang di cat, tapi gimana ya ngecatnya"

Lalu kemudian kita bercerita tentang masa kecil masing-masing,
waktu kamu tersetrum pas lagi main sepatu roda di lapangan kompleks rumahmu, yang berhasil bikin aku ketawa meskipun sebenernya kasian juga,
atau waktu aku pertama kali belajar sepeda dan berakhir pingsan gara-gara nabrak tiang listrik di depan rumah, 
atau tentang kamu yang ngeliat hantu pas hampir tenggelam di kali deket rumahmu,
lalu aku bercerita tentang dimarahin Ibu gara-gara main di kali
juga tentang pengalaman kakakmu yang paling tua ngeliat hantu di tangga rumah kalian, sambil nunjukin denah rumah yang kamu gambar di note hp,
atau tentang masa kecilku yang kata Ibu pernah ngeliat hantu di depan rumah,
juga tentang saudara mu, Elizabeth, yang pernah ngeliat hantu di loteng rumahnya,
kemudian sambil nunjukin bekas luka di dahi, kamu bercerita tentang jatuh dari sepeda dan kena pecahan kaca,
aku juga bercerita tentang pernah punya luka kaya kumis gara-gara jatuh dari sepeda dan nyosor batu-batuan,

terimakasih sudah memberiku 5 jam yang menyenangkan,
tidak pernah ada yang benar-benar meladeniku dengan semua pertanyaan-pertanyaan anehku, but you did.
terimakasih akhirnya berhasil membuatku lelap dengan lagu-lagu yang jujur aku tidak tahu, meskipun sejenak.


You deserve a thank you, not just the quick, thanks-for-answering-my-absurd-questions thanks, but a real, wholehearted thank you.

Rabu, 15 Maret 2017

Kepada Teman Masadepan

Assalamualaikum, selamat malam Mas..
Dimanapun kamu berada, semoga baik-baik saja.

Kamu sedang apa?
Aku sedang berusaha memperbaiki diri, sambil terus mencarimu.
Aku terus bertanya-tanya, siapakah kamu? Mungkinkah kamu seorang teman yang pernah ku taksir waktu SMP dulu? Mungkinkah kamu salah satu dari 12 sahabat K-31 ku? Mungkinkah kamu teman satu angkatanku? Mungkinkah kamu senior di ormawaku? Atau mungkin kamu salah satu peserta pelatihan yang sedang ku pandu?
Aku terus mencarimu, di toko buku, di jogging track stadion kampus, diantara aktivis-aktivis yang sedang forum,di selasar perpustakaan, di plasa jurusan sebelah, di parkiran masjid, di kereta, di kantin pusat, bahkan di antara riuh supporter futsal saat ada pertandingan antar himpunan mahasiswa.

Aku tidak tahu harus mencarimu dengan cara seperti apa. Aku coba berdandan kaya perempuan lain : pakai bedak + gincu, mulai pake flatshoes dan meninggalkan sneaker/running shoes, belaja berhijab ala-ala mba-mba ootd, juga pake baju yang lebih 'cewe'. Tapi lebih dari semua hal artifisial itu, aku berusaha memperbaiki diri lagi setiap harinya. Aku tidak pernah lelah mengembangkan diri, ikut kegiatan-kegiatan kampus baik sebagai panitia juga partisipan, ikut pelatihan ini-itu, bergabung dalam berbagai ormawa, meski kadang sangat jenuh dan bikin stress karena banyak amanah, aku yakin bahwa apa-apa yang ku lakukan insyaAllah akan bermanfaat nantinya. Aku juga banyak ikut forum-forum diskusi, selain untuk menambah wawasan aku juga berharap dapat memperluasan jaringan wehehehe. Ya siapa tahu kamu ternyata ada di sana juga.

Selain hal-hal duniawi tadi, aku juga berusaha memperbaiki kualitas imanku. Sebab aku tidak ingin kamu menyentuh api neraka hanya karena aku, istrimu, tidak paham tentang agama. Aku banyak mengikuti akun-akun islami terutama tentang perempuan, sedikit-sedikit aku mulai meninggalkan jeans (yah meskipun belum bisa sepenuhnya), aku berusaha inget buat pakai kaos kaki (meskipun masi suka lupa), aku juga mulai mencari teman-teman yang sekiranya mampu membimbingku, aku ikuti kegiatan mentoring. Bahkan sebenarnya aku mulai ingin meninggalkan teman-teman Kalpataruku. Sebab kamu mungkin tidak akan suka jika aku selalu dikelilingi laki-laki. Sebab Allah pun tidak akan suka dengan hubungan semacam itu.

***

Bohong kalau selama ini aku baik-baik saja. Aku sangat-sangat drama salam perkara ini. Bayangkan, setiap harinya aku selalu disodori kisah-kisah percintaan sahabat-sahabatku. Bahkan kalau kami lagi kumpul-kumpul, aku selalu jadi yang terbully karena tidak punya pacar sendiri. Aku selalu bersikeukeuh bahwa aku tidak jomblo! Aku single, aku memutuskan untuk tidak berpacaran! Sungguh aku berusaha memegang prinsip ini kuat-kuat. Kadang muncul juga bisik-bisik dalam benakku "Halah gaya banget! Bilangnya ngga mau pacaran padahal ngga ada yang ngajak aja kan? Coba kalo si dia ngajak pacaran, pasti buyar juga itu prinsip!" JAHAAAT... JAAHAAAAAAT!!!


Aku berusaha untuk tidak goyah, aku tidak ingin hubungan yang tidak diridhai Allah. Jadi, kalo entah suatu ketika ada seorang laki-laki yang mengajakku pacaran, aku yakin itu bukan kamu. Kamu tidak akan melakukan hal yang Allah tidak ridha, aku yakin. InsyaAllah, aku akan terus berusaha memperbaiki diriku. Aku yakin kamu juga sedang melakukan hal yang sama.


Aku mulai berpikir untuk tidak lagi mencarimu. Bahwa yang terpenting adalah mencari ridha Allah. Aku yakin kita akan dipertemukan pada saat yang paling tepat. Bukankah Allah adalah sebaik-baiknya perencana? Dan sekali lagi, aku yakin bahwa yang baik akan bersama dengan yang baik.

Dan jika entah karena apa tiba-tiba kamu salah jalan, insyaAllah aku akan membantu lewat doa agar Allah tunjukkan kembali jalan yang lurus padamu. Aku harap hal demikian juga sedang kamu lakukan padaku.
Semoga jalan yang kita lalui adalah jalan yang diridhai Allah, semoga hati kita senantiasa terpaut padaNya, semoga setiap langkah yang kita ambil akan menuntun kita pada pertemuan yang telah Ia rencanakan.

Wassalamualaikum,
Qumi.

Selasa, 13 Desember 2016

buat apa khawatir?

*sedang dalam antrian bazar buku*

“kamu takut miskin ngga?” adalah pertanyaan darimu yang memulai obrolan kita pagi itu.
“Hmmm” aku ragu
“Rejeki kita kan udah ada yang ngatur”
“iyasih, tapi…..”

Bukan, bukan. Aku bukannya takut miskin. Aku hanya takut tidak tercukupi. Apa bedanya?

*Kemudian sunyi*

“Ada contoh realnya loh tapi. Abah X yang suka pengajian di masjid kompleks rumahku, engga kerja cuman dakwah aja, bisa punya rumah di perumahan elite! Dua lagi! dan dua-duanya dikasih orang”
“hmm”

*Kemudian sunyi lagi*

“Tapi kalo semua orang dakwah, siapa yang jadi guru, siapa yang ngobatin orang sakit…..”
“nah itu….”
“berarti intinya bukan kita harus dakwah ya? Intinya tentang seberapa besar manfaat kita buat umat…”
“lagian dakwah kan ngga harus sebagai kyai atau ustad, kamu kan tetep bisa dakwah dengan apapun pekerjaanmu”

……….................
 
“kalo aku ngga kerja gimana ya?” tanyamu, entah pada diri sendiri atau padaku.
“lah! Anak istrimu mau kamu kasih makan apa?”
“balik lagi, rejeki kan udah ada yang ngatur qum”
“tetep aja, seenggaknya kalo kamu kerja kan kamu bisa lebih menjamin besok anak istrimu bisa makan”
“emang kalo aku kerja ada yang bisa menjamin besok aku bisa makan? Kan ngga ada”

Kadang-kadang aku dibuat heran sama pola pikirmu yang ekstrem banget begini. Aku speechless.

“itu buktinya abah ngga kerja masih sehat aja, bisa makan, punya rumah juga”
“hmmmm….”
“kalo aku nanya ke ibuku, bakal setuju ngga ya kalo aku nanti ngga kerja…”
“sepertinya engga, hehehe”
“iyadeh kayanya hehehe”
“kalo kamu ngga kerja, aku ngga mau jadi istrimu” ini bukan ancaman kok, hehehe. bercanda aja, pingin tahu reaksimu. Ah ternyata kamu diem aja. Oke mulai nglantur. Abaikan. Abaikan


“Dan Dia telah memberimu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan padaNya. Dan jika kau menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat (mengingkari) nikmat Allah” QS Ibrahim : 34

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya. Dan Dia meengetahui tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)” (Hud 6).  

Bener juga ya, kenapa aku mesti takut miskin? Sementara rejekiku sudah diatur oleh Yang Maha Kaya.