Tampilkan postingan dengan label self reminder. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label self reminder. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Mei 2023

Tentang menemukan diri

 Sudah lama tidak menulis dan berkontemplasi diri. 

Singkatnya begini, sudah satu bulan lebih aku memasuki usia baru : 26 tahun. Di usia 26 ini, ternyata pencarianku untuk menemukan diri belum juga usai. Untuk bisa bersepakat dengan orang lain adalah satu hal, tapi bersepakat dengan diri? itu hal lain.

Aku mencari dan terus mencari, tempat untuk menancap kuat dan merambat. Mencari akarku, untuk tumbuh atas kesadaran pikirku sendiri. Menjadi pribadi yang ajeg tapi tetap membumi. 

Tidak ingin membandingkan diri dengan orang lain, aku mengamini bahwa pendewasaan adalah konsep yang sulit ku cerna. Aku ingat sebuah tulisan milik Rara Sekar, dewasa baginya sekedar lebih mengerti. Hal-hal yang tak semestinya kita besar-besarkan akan kita perlakukan semestinya, kita terima seperti apa-adanya. 

To be able to see things as they are.
To be able to see life as it is

Aku menyadari aku adalah jenis manusia yang kurang nyaman terhadap kejutan. Ketika menonton film, drama, membaca buku aku akan mencari tahu ending atau sinopsisnya terlebih dahulu. Singkatnya, aku tidak suka berada dalam situasi yang tidak bisa ku kendalikan. 

Tapi nyatanya hidup tidak demikian, Nyatanya hidup penuh dengan ketidakpastian yang membawa kita pada ketidak-nyamanan, kejenuhan dan rasa sakit. Maka dewasa bagiku adalah berdamai dan berjalan bersama atas ketidakpastian yang disodorkan hidup padaku. 



Masyeta, 03 September 2022. 

----

Tulisan ini sudah pernah diunggah pada akun instagram pribadi @qumifajri

Minggu, 08 Juli 2018

From a stranger; Jika anakku autis

29 Juni 2018
Perjalanan dari Tulungagung ke Surabaya, kereta Dhoho.

Dalam perjalanan kali ini saya tidak mendapatkan tiket duduk, artinya saya bebas duduk di kursi manapun asal kursi tersebut kosong, dan tentunya siap untuk diusir ketika pemilik kursi datang.
Kemudian saya memutuskan masuk gerbong 4 dan duduk di kursi no 1A, kursi terdekat dari saya masuk.

Sampai di stasiun Kediri, ada 3 orang (2 perempuan dan satu anak kecil cowok) menghampiri kursi saya dan nanya apa kursi tersebut kosong, saya persilahkan karena memang bukan kursi saya. Dan ternyata mereka bertiga juga penumpang tanpa tempat duduk seperti saya.

Awalnya saya dan dua perempuan tersebut ngobrol biasa, basa-basi nanya tujuan. Kemudian saya sibuk dengan hp sendiri (re: lagi baca draft curmis)
Si anak kecil, yang kemudian saya tahu bernama Abi, kemudian minta pipis. Kebetulan tempat duduk kami dekat dengan kamar mandi. Sewaktu balik dari kamar mandi, Abi ngga sengaja nginjek kaki saya,yang kemudian dia buru-buru bilang "maaf mbaa" sambil pasang muka lucu dan menelangkupkan tangan didepan dada (yah begitulah if u know what I mean).

Long story short, sampe di satsiun kertosono pemilik tempat duduk kami datang. Akhirnya saya dan 3 teman perjalanan saya tadi harus berdiri (keretanya lagi penuh banget). Khusus untuk Abi, dia bisa duduk nyempil-nyempil karena masih kecil.

Akhirnya saya dan 2 perempuan yang bersama Abi tadi ngobrol, ternyata yang lebih tua adalah ibunya Abi sementara yang satunya adalah tantenya.
Dari mama Abi, saya tahu bahwa Abi mengalami autisme. Abi cenderung hiperaktif dan kurang bisa konsentrasi. (Sumpah ini saya kaget, soalnya beneran ngga keliatan)
Saya mungkin ngga akan tahu kalo Abi termasuk anak berkebutuhan khusus kalo mamanya ngga ngasih tahu. Bahkan sebelumnya saya sempat nanya ke Abi dia kelas berapa, dan dia pun jawab "paud" dengan sangat biasa.

Dari kecil hingga saat ini, Abi tinggal bersama nenek dan kakek serta tantenya di Tulungagung. Kedua orang tua Abi tinggal di Jakarta (saya tidak tahu alasannya, bukan hak saya untuk bertanya).

Ternyata Abi saat ini dalam pengaruh obat. Entah obat apa, mungkin untuk menekan syaraf yang membuatnya 'hiper' tadi. (saya ngga tau analisanya gimana, yang saya tulis cuman berdasarkan obrolan dengan sang Mama, insyaAllah tidak ada penambahan maupun pengurangan).
Abi juga dalam pengawasan 3 dokter, yaitu: dokter anak, dokter syaraf dan dokter jiwa atau psikolog.
Jika tidak dalam pengaruh obat, Abi akan sangat aktif. Bahkan sepanjang perjalanan kurang lebih 5 jam itu, ada sekurang-kurangnya 6 kali Abi minta pipis. Dan setiap kereta berhenti di stasiun, Abi akan minta turun karena dia kira sudah sampai (literally di setiap stasiun).

Untuk makanan, Abi tidak diijinkan mengkonsumsi makanan tertentu. Misalnya pisang. Kira-kira alasannya mungkin berhubungan sama obat yang dia konsumsi. Atau bisa jadi makanan tersebut jenis karbo yang memberikan energi dan dapat memicu hiperaktifnya. Begitu penjelasan sang mama.

Awalnya tidak ada yang tahu bahwa Abi mengalami autisme. Namun di usia 3 tahun lebih Abi belum bisa berbicara lancar layaknya anak seusianya. Bahkan sampai sekarang-pun Abi masih kesulitan berbicara (oke ini baru saya sadari kemudian)

Saat ini Abi sekolah di sekolah umum. Dan sedihnya, karena lingkungan tempat tinggal Abi tidak bisa memahami bahwa Abi merupakan anak berkebutuhan khusus. Yang mereka tahu bahwa Abi anak yang nakal dan bandel karena susah dibilangin. Bahkan di sekolah-pun Abi mengalami bullying, karena dianggap nakal oleh teman-temannya.

Rencananya Abi setelah ini akan tinggal di Jakarta bersama kedua orang tuanya. Dan akan disekolahkan di sekolah khusus. Alhamdulillah Abi punya mama yang memahami kondisinya dan mau berjuang buat dia.Ternyata untuk sampai di titik ini bukan suatu hal yang mudah. Kecewa dan penolakan pasti ada. Apalagi sejak hamil, mama Abi selalu ngusahain yang terbaik buat bayinya. Mama Abi rutin konsumsi minyak ikan sejak hamil. Kemudian dari kecil, Abi dibelikan susu yang bagus (re: mahal) (Saya lupa tepatnya apa, bebelac apa ya?). Oh ya, Abi tidak minum asi. Alasannya apa saya kurang tau, yang jelas orang tua Abi selalu mengusahakan yang terbaik buat anaknya.

Saya sempat ngira, kondisi Abi saat ini mungkin karena konsumsi minyak ikan atau yang lain. Mungkin 'kan? Asumsi seorang awam hehehe. Ternyata kondisi ini karena garis keturunan sang ayah.

Semoga Abi lekas sembuh dan dapat diterima dimanapun dia berada. Semoga mama dan papa Abi diberi kekuatan dan ketabahan.

Ternyata, punya baby ngga semudah keliatannya aja ya hehehe. 

Oh  ya, ternyata hari ini Abi naik kereta agar ketika nanti naik kereta ke Jakarta dia sudah terbiasa.


-Surabaya, 8 Juli 2018.
Dari Qumi yang belum siap jadi orang tua.

Minggu, 24 Juni 2018

Sendiri



Apa yang salah dari sendiri?
Jangan melulu kau rutuki, dia pun ada baiknya untukmu.
Ya memang sunyi, ya memang sepi,
Tapi barangkali disanalah kau akan temukan diri,

Kita tetap butuh ruang, sendiri-sendiri.
Agar tetap menghargai rasanya sepi.  ( Ruang sendiri, Tulus )

Sendirimu itu, harus dinikmati sebaik mungkin.
Sebelum nanti akhirnya berdua, kamu harus benar-benar selesai dengan sendirimu.

Kunjungilah Tuhan, bercengkramalah denganNya,
Berkelanalah, jauh hingga kau rindu rumah,
Mimpi-mimpi lama yang belum juga tercoret, kejarlah
Dalam sendirimu itu, temukan dirimu

Sepi itu indah, percayalah.
Membisu itu, anugerah. ( Hujan di mimpi, Banda Neira )

Sendirimu, adalah rumah bagi berdua, bertiga, berempat dan bersama-sama.
Siapkan rumah paling nyaman untuk mereka, bersihkan, rapihkan.
Barangkali esok mereka singgah,
Lalu memutuskan tidak ingin pindah.

Kamis, 07 Desember 2017


i wish you happiness,
i hope oneday you'll have enough warm mornings, less sleepless nights.
i hope you see that it may not be that bad after all.
because the hugs, the good days, the sunshine, will come oneday.

you are worthy enough of having a good person,
you are good enough to have someone good,
you are more than good enough, capable enough, deserving enough to be loved, to be treated kindly.
you are loved, you are loved, you are loved. 

Jumat, 15 Januari 2016

catatan perjalanan : Ilmu tak hanya dari buku



Aku seorang mahasiswa semester 3 Teknik Elektro ITS. Aku berasal dari kampung di tepian selatan Jawa Timur. Berada di sebelah barat daya Surabaya dan berjarak 5 jam perjalanan dengan bis maupun kereta dari kota pahlawan itu. Kuliah jauh dari kampung halaman membuatku sering bolak balik melakukan perjalanan. Seringnya naik kereta, beberapa kali juga naik bis. Semua perjalanan menyimpan ceritanya masing-masing.  
Awal juni kemaren aku dan adik kelasku (Evrima) naik bus, teman perjalanan kami seorang wanita yang kuperkirakan umurnya 2 tahun dibawahku. Celananya belel, kaosnya ketat, pakai sandal jepit, rambutnya diwarna pirang, dan dia tidak membawa apapun selain sebatang rokok. Perkenalan kami tidak terlalu menyenangkan. Tapi aku tau, orang seperti ini harus diperlakukan dengan sangat sopan dan baik. Maka akhirnya kami ngobrol, sambil tetap focus ku jaga semua barang bawaanku. Bukannya suudzon, tapi menjaga diri itu perlu kan? Ternyata tujuan kami sama, terminal Purabaya. Dia memang asli Surabaya.  Selama perjalanan yang cukup panas itu, dia yang mendominasi obrolan, sementara aku dan Ev hanya bicara kalau memang diperlukan. Dari ceritanya, aku tau dia menempuh pendidikan hanya sampai kelas 2 smp, karena “kecelakaan” akhirnya harus berhenti. Sekarang anak perempuannya berumur 6 bulan. Dengan raut bahagia, dia bilang anaknya cantik dan putih, tidak seperti dia. Kini anaknya tinggal dengan budhenya, dan dia berencana tetap menitipkan anaknya disana. Dia juga ingin kelak anaknya dipondokkan agar tidak tumbuh seperti dia. Setelah cerita panjang lebar, kini aku mulai tau sedikit karakternya. Dari dia juga aku sedikit tahu tentang kehidupan pengamen jalan, rumah-rumah di tepi rel kereta, bahkan tentang PSK.
Sisa perjalanan itu kami habiskan dengan mengistirahatkan diri. Dari wanita ini, aku belajar bahwa hidup tidak selalu menyenangkan. Dan bahwa seburuk apapun orang, dia akan selalu berharap anaknya menjadi orang baik. Bahkan kata-kata ini muncul dari seorang wanita nakal, yang juga perokok berat. Karna sesungguhnya, fitrah manusia adalah menjadi baik, sebab tiap-tiap insan memiliki hati nurani.
Pernah juga, ketika aku bepergian sendiri naik kereta, teman perjalananku seorang ibu-ibu muda yang ternyata mantan TKW. Dan seorang laki-laki pengusaha toko optic. Ibu-ibu ini punya seorang anak perempuan yang baru kelas 7 smp. Anak yang menurutnya nakal dan susah diatur. Sebelumnya dia bekerja di Malaysia sebagai buruh di rumah makan. Sekarang ia bekerja sebagai reseller barang kredit. Jadi dia sebagai perantara orang-orang yang ingin mengkredit barang apapun. Dia bercerita suka-dukanya pekerjaan yang ia tekuni. Terkadang orang-orang sedikit susah ketika ditagih, bahkan ada yang nunggak beberapa kali. Sedangkan pengusaha optic ini dulunya juga TKI di Malaysia. Mereka berdua bercerita padaku bagaimana kehidupan mereka ketika masih menjadi TKI. Obrolan mulai berganti topic ke masalah keluarga. Ternyata ibu muda yang tidak kuketahui namanya tersebut kini seorang janda. Dia dan suaminya belum lama bercerai. Sedangkan pengusaha optic ini punya dua istri. Istri yang pertama berada di Surabaya, dan mempunya dua anak. Sementara istri keduanya berada di Kalimantan. Dari pernikahan siri dengan istri kedua, dia mempunyai satu anak. Ternyata pernikahan yang kedua ini merupakan hasil dari perselingkuhan selama dia bekerja di Malaysia. Namun kini istri pertamanya sudah tahu, dan melarang suaminya kembali ke Malaysia. Dari situlah dia akhirnya menjadi pengusaha. Dari mereka berdua, aku tahu bahwa rumah tangga selalu punya cerita duka masing-masing. Pernikahan seharusnya sesuatu yang sakral dan harus dijaga, tetapi kenyataannya mungkin karena kesalahan satu atau dua pihak, pernikahan tersebut berujung perceraian. 
Satu lagi kisah perjalanan yang mungkin tidak akan pernah bisa kulupa. Tanggal 29 Juli, ketika aku melakukan perjalanan untuk pulang ke Tulungagung menggunakan kereta api, teman dudukku seorang remaja perempuan persama ayahnya. Dan di depan kursi kami ada seorang bapak-bapak paruh baya, juga seorang mas-mas yang kuperkirakan umurnya akhir 20 an. Awalnya semua berjalan biasa, untuk mengatasi kebosanan aku melanjutkan merajut amigurumi tanpa memperdulikan apa yang dilakukan temen-teman perjalannanku. Ketika kereta baru smapai daerah Mojokerto, seorang lelaki yang kuperkirakan umurnya sekitar 47 tahun menghampiri tempat kami. Dia ingin meminjam charger HP. akhirnya mas-mas didepanku yang memberikan pinjaman. Percakapan awalnya tentang Universitas Da**l Ul*m yang sempat ditutup Karena isu ijasah palsu. Ternyata bapak ini dulunya kuliah disana, jurusan hukum. Bapak paruh baya yang tadinya tidur kini mulai bergabung dalam percakapan tersebut. Dia bercerita bahwa kasus ijasah palsu tersebut mungkin hanya bisa digunakan untuk mendaftarkan diri bekerja di bank, itupun tidak bisa digunakan untuk naik jabatan. Aku mendengarkan dengan seksama percakapan tiga laki-laki tersebut. Bapak paruh baya itu juga sempat memberi tips ketika sedang interview maupun tes tulis kerja. Percakapan tersebut didominan oleh bapak paruh baya, yang ternyata dulunya bekerja di bank.  Obrolan mengalir begitu saja, membahas tentang koruptor, anak istri yang kemudian makan dari uang haram tersebut, pasti juga tidak akan membawa berkah. Beliau berkata apabila anak bertingkah laku buruk, itu merupakan kesalahan orang tua. Sebab apa yang diberikan, dari mana uang yang digunakan untuk makan, omongan-omongan apa saja yang telah didongengkan, semuanya akan berdampak pada karakter anak.  
Obrolan menjadi sangat menarik ketika bapak yang tadi meminjam charger mulai bercerita tentang kehidupannya. Yaitu tentang istri dan anaknya. Anak sulungnya kuliah semester 5 di Un**r. Si bapak bercerita bahwa hubungannya dengan sang istri tidak harmonis, bahkan sejak awal pernikahan. Menurut bapak, hal ini karena memang mereka adalah produk perjodohan. Bahkan si Bapak sampai mengecek weton sang istri. Yang paling membuatku tersentak, sang istri selalu bicara kepada anak-anaknya “Bapakmu ini nggak berguna”. Hal itu menjadi sarapan pagi dan dongeng malam bagi sang anak-anak (kalau tidak salah jumlahnya 3). Akhirnya, si anak pun tak punya hormat pada sang Bapak. Bahkan si anak sulung pernah berkata pada sang Bapak “Kon iku ngaliho, nggak guna dadi Bapakku!” Astagfirullah. Aku ikut merasakan sedih (sakit, dan marah juga) mendengar cerita Bapak. (aku sampai menitikan air mata lho…) Karma Allah memang ada, 2 minggu setelahnya, si sulung kehilangan motornya. Namun kasian Bapak, lagi-lagi beliau yang harus menanggungnya. Bagaimanapun sulung, dia tetaplah anak. Yang padanya tetap ada sejuta harapan sang bapak.
Mungkin cerita dan kisah perjalanan hari itu menjadi salah stau yang tak terlupakan. Betapa adilnya Allah, karena setiap perbuatan akan ada balasan, baik di dunia maupun di akhirat. Dari apa yang kita perbuat, makan dan pikirkan akan membawa pengaruh pada diri kita. Berbanyak-banyaklah istighfar Qum!
See? Belajar bukan hanya tentang membaca. Ilmu tak melulu datang dari buku. Belajar tidak hanya dari bangku kuliah, pelajari juga kuliah kehidupan yang dijalani. Bahkan dari seorang penzinapun ada ilmu yang mampu kita pelajari.
“Tuntutlah Ilmu dari buaian hingga liang lahat”