Jumat, 09 Desember 2016

Haru Biru dalam Rindu



Langit Surabaya sore itu tanpa terik, memang sepertinya matahari sedang sendu. Desember dan kawan sebelumnya didominasi kelabu. 

Kita-aku dan kamu- sedang dalam perjalanan menuju tempat dari cerita masa lalu.

Satu jam pertama perjalanan diwarnai dengan kisah tokoh idola kita- Nabi Muhammad SAW.
Kali ini aku bercerita tentang kisah Bilal yang memutuskan untuk tidak lagi adzan setelah Rasul wafat. Yang kemudian melakukan hijrah ke Madinah setelah mendapat mimpi tentang Rasul. Aku bercerita tentang betapa hatiku dibuat bergetar, saat Madinah seketika sunyi senyap ketika mendengar kumandang adzan Bilal, kemudian orang-orang berbondong-bondong datang kepadanya. Aku bercerita tentang tangisku yang pecah setibanya di bagian ‘Asyhadu anna Muhammadan Rasullullah’ dan seisi Madinah pecah oleh tangisan dan ratapan yang memilukan. Maaf, lagi-lagi tangisku jatuh, untungnya kali ini tanpa isak. Dan kamu mengamini bahwa kisah ini juga turut menggetarkan hatimu.


Bersama sendunya langit Surabaya, kita larut dalam haru.
Aku haru karena rindu. Rindu yang sama yang menenggelamkan Madinah dalam isak tangis hari itu.
Semoga kamu juga begitu.

Semoga hatimu dan hatiku senantiasa ditautkan kepadaNya. 

Semoga aku dan kamu didekatkan karena cinta kita kepadaNya.



Ku lampirkan kisah yang menyemai rinduku,

"Sejak Rasulullah wafat, Bilal meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak lagi melantukan Adzan di puncak Masjid Nabawi di Madinah. Bahkan permintaan Khalifah Abu Bakar ketika itu, yang kembali memintanya untuk menjadi muadzin tidak bisa Ia penuhi.
Dengan kesedihan yang mendalam Bilal berkata : “Biarkan aku hanya menjadi muadzin Rasulullah saja. Rasulullah telah tiada, maka aku bukan muadzin siapa-siapa lagi.”
Khalifah Abu Bakar pun bisa  memahami kesedihan Bilal dan tak lagi memintanya untuk kembali menjadi muadzin di Masjid Nabawi, melantunkan Adzan panggilan umat muslim untuk menunaikan shalat fardhu.
Kesedihan Bilal akibat wafatnya Rasulullah tidak bisa hilang dari dalam hatinya. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan Madinah, bergabung dengan pasukan Fath Islamy hijrah ke negeri Syam. Bilal kemudian tinggal di Kota Homs, Syria.
Sekian lamanya Bilal tak berkunjung ke Madinah, hingga pada suatu malam, Rasulullah Muhammad SAW hadir dalam mimpinya. Dengan suara lembutnya Rasulullah menegur Bilal : “Ya Bilal, Wa maa hadzal jafa? Hai Bilal, mengapa engkau tak mengunjungiku? Mengapa sampai seperti ini?“
Bilal pun segera terbangun dari tidurnya. Tanpa berpikir panjang, Ia mulai mempersiapkan perjalanan untuk kembali ke Madinah. Bilal berniat untuk ziarah ke makam Rasulullah setelah sekian tahun lamanya Ia meninggalkan Madinah.
Setibanya di Madinah, Bilal segera menuju makam Rasulullah. Tangis kerinduannya membuncah, cintanya kepada Rasulullah  begitu besar. Cinta yang tulus karena Allah kepada Baginda Nabi yang begitu dalam.
Pada saat yang bersamaan, tampak dua pemuda mendekati Bilal. Kedua pemuda tersebut adalah Hasan dan Husein, cucu Rasulullah. Masih dengan berurai air mata, Bilal tua memeluk kedua cucu kesayangan Rasulullah tersebut.
Umar bin Khattab yang telah jadi Khalifah, juga turut haru melihat pemandangan tersebut. Kemudian salah satu cucu Rasulullah itupun membuat sebuah permintaan kepada Bilal.
“Paman, maukah engkau sekali saja mengumandangkan adzan untuk kami? Kami ingin mengenang kakek kami.”
Umar bin Khattab juga ikut memohon kepada Bilal untuk kembali mengumandangkan Adzan di Masjid Nabawi, walaupun hanya satu kali saja. Bilal akhirnya mengabulkan permintaan cucu Rasulullah dan Khalifah Umar Bin Khattab.
Saat tiba waktu shalat, Bilal naik ke puncak Masjid Nabawi, tempat Ia biasa kumandangkan Adzan seperti pada masa Rasulullah masih hidup. Bilal pun mulai mengumandangkan Adzan.
Saat lafadz “Allahu Akbar” Ia kumandangkan, seketika itu juga seluruh Madinah terasa senyap. Segala aktifitas dan perdagangan terhenti. Semua prang sontak terkejut, suara lantunan Adzan yang dirindukan bertahun-tahun tersebut kembali terdengar dengan merdunya.
Kemudian saat Bilal melafadzkan “Asyhadu an laa ilaha illallah“, penduduk Kota Madinah berhamburan dari tempat mereka tinggal, berlarian menuju Masjid Nabawi.  Bahkan dikisahkan para gadis dalam pingitan pun ikut berlarian keluar rumah mendekati asal suara Adzan yang dirindukan tersebut.
Puncaknya saat Bilal mengumandangkan “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah“, seisi Kota Madinah pecah oleh tangis dan ratapan pilu, teringat kepada masa indah saat Rasulullah masih hidup dan menjadi imam shalat berjamaah.
Tangisan Khalifah Umar bin Khattab terdengar  paling keras. Bahkan Bilal yang mengumandangkan Adzan tersebut tersedu-sedu dalam tangis, lidahnya tercekat, air matanya tak henti-hentinya mengalir. Bilal pun tidak sanggup meneruskan Adzannya, Ia terus terisak tak mampu lagi berteriak melanjutkan panggilan mulia tersebut.
Hari itu Madinah mengenang kembali masa saat Rasulullah masih ada diantara mereka. Hari itu, Bilal melantukan adzan pertama dan terakhirnya semenjak  kepergian Rasulullah. Adzan yang tak bisa dirampungkannya."

sumber : http://1001kisahteladan.com/kisah-mengharukan-bilal-dan-adzan-terakhirnya-108/

Kamis, 03 November 2016

Ngobrol-Ngobrol Lucu : IKHLAS

Ngobrol-Ngobrol Lucu adalah bentuk tertulis dari diskusi kecil yang sering Qumi lakukan bersama teman-teman. Lebih kepada : apa yang Qumi dapat ambil dari diskusi tersebut. 

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
IKHLAS 
(Qumi, Verdy, Oji-Kamis, 03 November 2016, Mie Akhirat Mulyosari lantai 2)

"sebenernya kalo kita beramal tu, boleh ngga sih karena kita mengharap pahala?"

Berawal dari pertanyaan yang Oji lempar itu, lahirlah diskusi singkat mengenai "ikhlas" ini. 
Bagi Verdy, mengharap pahala itu sah-sah saja, justru memang segala sesuatu yang kita lakukan semestinya memang untuk tujuan surga. Karena Allah memang sudah menjanjikan pahala dan surga bagi mereka yang beramal. Dan definisi pamrih bagi Verdy, lebih kepada sesuatu yang berwujud, jadi ketika yang kita harapkan itu pahala dan surga yang memang telah dijanjikan Allah, maka memang demikian semestinya. 
Sementara Oji sendiri berpendapat, semestinya kita melakukan segala sesuatu itu agar mendapat ridha Allah, bukan karena ingin mendapat pahala. Ketika "gue beramal biar dapet pahala", artinya masih belum ikhlas/ masih pamrih, dan itu ngga baik. Alangkah baiknya ketika kita beramal, tanpa mengharapkan balasan sama sekali, karena sesungguhnya yang kita cari adalah ridha Allah. 

Sementara bagiku, ikhlas itu kadarnya tidak jelas seperti apa. Ikhlas itu yang tau cuman diri kita sendiri dan Allah. Maka ketika kita melakukan suatu amal, apapun niat yang ada dalam hati kita, ya itu lebih baik daripada kita tidak beramal. Toh yang tahu amal kita dihitung sebagai pahala atau tidak hanya Allah lillahi ta'ala. Alhamdulillah ketika amal itu dihitung sebagai pahala, namun ketika (mungkin) amal itu tidak diterima karena niat yang keliru (belum ikhlas, dll) semoga masih membawa kebermanfaatan lain (Amiin). 
Ibaratnya kita berpuasa, kita tidak tahu apakah puasa kita dihitung sebagai ibadah atau tidak (ada puasa yang hanya mendapat lapar dan dahaga saja, karena satu dan lain hal). Tapi masih lebih baik kan daripada tidak berpuasa? Setidaknya kita berusaha mendekatkan diri kepada-Nya. Syukur alhamdulillah ketika kita sudah bisa ikhlas Lillahi ta'ala dalam menjalankan segala sesuatunya.  

Seringkali kita tahu, ada teman yang beramal namun dia memberitahukan hal tersebut pada orang lain. Bukankah ini riya'? Wallahu a'lam. Bisa saja niatnya bukan untuk pamer, namun tanpa sengaja dia memberitahu orang lain.
Alangkah lebih baik jika 'tangan kanan memberi, tangan kiri tidak tahu'.  
Tapi kembali lagi, ikhlas ini abu-abu, hanya diri kita sendiri dan Allah yang tahu. Dan memang harus saya akui, melakukan sesuatu hanya untuk meraih Ridha Allah tanpa mengharap pahala dan surga sangatlah sulit bagi saya. 

Karena kita tidak pernah tahu amal mana yang akan membawa kita ke surgaNya, setidaknya kita harus senantiasa berusaha. 


Mari belajar ikhlas, mari kita niatkan segala sesuatunya Lillahi ta'ala, semoga Allah memberi ridha-Nya. Amin.


Ikhlas itu seperti surat Al-Ikhlas, yang di dalamnya tidak ada kata ikhlas.

Selasa, 01 November 2016

Toleransi : Jamur-jamur kecil yang masih mengakar

Sedikit resah, organisasiku yang sakit tak kunjung sembuh.
Padahal obat-obatnya sudah ada, mulai dari Piagam Elbud, pemahaman akan hakikat berorganisasi, pencerdasan mengenai landasan organisasi (AD/ART) dan obat-obat luar biasa lain yang telah ter-'pikir'-kan.
Dulu saya kira, penyakitnya berat, fundamental. Baru-baru ini saya sadar, ternyata penyakitnya ringan, tapi sudah komplikasi, menumpuk, menggunung!
.
.
.
Lagi-lagi "toleransi" itu dihadirkan kembali, dengan dalih "biar diselesaikan dulu", "menghargai departemen X", "nanggung bentar lagi kelar", dan lain-lain, dan lain-lain.
Bukan masalah siapa tidak menghargai siapa, tapi ini lebih kepada perkara tidak menghargai perjanjian forum.
Takutnya, hal-hal demikian akan tetap berulang ke depannya. Lahir dari toleransi-toleransi kecil-kecilan, bisa mundur berbulan-bulan. Karena apa? Ya karena mindset "ngga apa-apa 5 menit aja" sudah terlanjur mendarah daging dan menggunung sampai-sampai 5 menit itu belipat ganda menjadi sekian menit, sekian jam, bahkan sekian hari.
Takutnya, apa yang sudah disepakati di awal, tiba-tiba saja diubah di akhir, dan anehnya 'penonton' diam saja! Oh iya, 'kan memang hanya PENONTON.



Sedikit opini dari saya, penonton yang resah. Ya, sayangnya saya juga hanya penonton. Meskipun ada resah dalam batin saya, tapi saya masih penonton.
Yang mampu penonton ini berikan hanyalah doa, semoga organisasiku lekas sembuh dan menebar kebermanfaatan selayaknya dia semestinya tercipta. Amin.
 


Selasa, 04 Oktober 2016

Random Thought [sekedar berbagi]



Hampir tengah malam, pertengahan Oktober.
 Perkuliahan udah masuk minggu ke 5. Udah ngapain aja? Oke, review dulu yukk

Awal balik ke Surabaya (bahkan jauh hari sebelum mulai kuliah), ngga pernah absen nongkrong di kampus. Ngapain? Ya ngapain lagi kalo bukan LPJ.

Malam-malam akhir agustus dihiasi lolongan sang Werewolf. Kontrakan Hadi dan McD mulyos jadi sarang manusia-manusia nocturnal ini. Ngga jarang juga permainan baru kelar pagi. Sudah mulai jadi gadis malam, Astagfirullah.

Masih akhir agustus ada FRS dan perwalian, masih betah aja di kampus. Yah sejam dua jam ketemu dosen, sisanya rapat dan segala macemnya.

Awal September, mulai ada rapat TD, rakom Pra-TD, rapat kalpataru juga.  Awal masuk perkuliahan.
2 September, Pendakian Panderman. Bareng Erick, Mas Tesar, Edo, Onyin, Vicario, Srundeng, Akbar, Cak Made, Cak Fahmi, sama Cak Yahya. Alhamdulillah awal semester ini sempet nyicipin naik gunung. Yah meskipun lebih mirip bukit.

9 September, LPJ Kalpataru kepengurusan 15/16. Teater A.

10 September, suksesi Kalpataru. Setelah melewati diskusi malam yang panjang dan berlarut-larut, muncullah 5 calon (Ipe, Chyko, Kaymal, Erick, Ujang).  Dan selamat kepada Saudara Erick Bestowan akhirnya terpilih sebagai pemegang amanah Keluarga Kalpataru yang baru.

Kalau ngga keliru, minggu kedua September itu juga ada screening LKMM TD. Running bareng persiapan TDnya, hampir tiap malem rapat bahas persiapan. Dan tibalah di hari-H : 14-18 September. Mulai jam 18.00-paling cepet pulang jam 23.00. Paginya masih harus kuliah pula!  bener-bener kosan cuman tempat numpang mandi.

24 September akhirnya LPJ yang berlarut-larut dan membosankan ini berakhir!. Lepas tanggung jawab, buat nerima tanggung jawab baru. Akhirnya mas Hilmy turun, dan selamat kepada Anang akhirnya resmi juga.

Yang baru-baru aja, ada SPS!!!! Syukuran Pelepasan Sarjana. Bisa sedikit ‘seneng-seneng’ dan lupain amanah lain, hehehehe. 25 September, setelah H-3 hari nyiapin segala keperluan buat ‘graduation party’ nya Kalpataru.

Oh ya, pada suatu rapat di akhir agustus, pengurus udah setuju tanggal Kalpataru Gathering ditaruh di 15-16 Oktober. Dimana, sempet terkesampingkan gara-gara ada suksesi dan SPS!

Di minggu-minggu ini, lagi sibuk-sibuknya rapat pemandu buat nyiapin PP yang kira-kra jatuh di minggu ke 7 perkuliahan.

Minggu ini juga (tepatnya tanggal 10),  rencananya Kalpataru ada suksesi.
Dan barusan aja kemaren Sabtu-Minggu, Kabinet sibuk-sibuknya ngurusin oprec staff.

Sementara amanah udah ngantri minta jatah waktu, tenaga, pikiran juga, dosen-pun udah mulai hobi ngasi banyak tugas dengan deadline mepet.
Sudah sangat bisa dipastikan, untuk beberapa minggu ke depan, Qumi gabisa pulang. Dan akhirnya galau bete ngambek gajelas sendiri.

InsyaAllah bisa. Mengeluh ngga akan menyelesaikan apapun. Lagian bener juga kata Mas Hilmy, hak kita untuk mengeluh sudah di cabut, tepat ketika kita memilih mengemban amanah ini.

Minggu, 11 September 2016

SEMERU #part2


baca ini dulu yaaaa

#SEMERUpart1

Kali ini lewat semacam rawa-rawa gitu, tapi kering. Pohonnya rimbun, trekking buat jalan juga kecil, ketutup rumpu-rumput. Nah kali ini trekkingnya turun, jadi kita-kita pada lari. Sesekali naik dikit, tapi masih bisa diatasi. Ngga makan waktu lama, akhirnya mulai keliatan padang rumput luas. Sampelah kita di Kalimati. Lelah lari-lari akhirnya kebayar pake pemandangan Mahameru yang MasyaAllah banget didepan mata kita. 


Menenangkan lelah yang sejak tadi menggelayuti kaki, ditemani hangat matahari sore dan sepoi angin sejuk menyapu wajah. Mata turut serta dimanjakan lukisan sempurna Tuhan. “Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?”  Harus banyak-banyak bersyukur bisa diberi nikmat sedemikian luar biasanya.
 



(maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?)


***
Mahameru yang melenakan, bikin kita lupa waktu. Tiba-tiba langit mulai senja,permadani langit yang tadi biru kini dipoles jadi jingga.
Buru-buru diriin tenda, sebelum gelap menyapa. Kenapa jadi puitis kaya pujangga gini?

(one fine day)




Celakanya kita, selesai diriin tenda udah mulai gelap. Pada lupa kalo bates ambil air di Sumber Mani cuman sampe jam 5, dan ini ternyata jadi awal bencana kita. (anggep aja ada backsound ala-ala film horror pas hantunya mulai muncul)
Pas tenda udah jadi, langsung pada cari posisi masing-masing. Ngga kuat sama dinginnya brrrrrrrr. Aku setenda sama oji, Rheja. Disebelah ada Ujang, Mas Gaza, Kamal yang entah ngapain udah ngga kedengeren suaranya. Di sebelah lagi ada Chyko, Joseph, Erick, Kaymal yang lagi masak sup. Sempet ditawarin sup juga, aku sih ngga mau (bukannya suudzon ya entah udah diapain aja itu sup, udah dikasih apa aja, yah you know lah mereka kaya apa jailnya), Rheja yang kedinginan dan kelaparan akhirnya kegoda juga.
Setelah acara pesta sup itu kelar, pasang alarm-waktunya tidur. Rencananya nanti muncak jam 12.
***
Aku kebangun sekitar jam 11. Yah sebagai cewe, cukup tau diri lah tugas kita buat nyiapin makanan. Dinginnya bikin mager, tapi yaapa maneh. Anak-anak masih tidur, ngga ada yang mau diganggu hiks, masak sendiri. Ternyata diluar udah rame, tenda sebelah juga lagi masak, persiapan buat muncak. Akhirnya cuman sempet masak nasi (setengah mateng) sama mie, plus energen. Nah disini keraguan ane mulai muncul. Ngeliat kondisi air yang tinggal dikit, jadi ragu-ragu lanjut muncak apa engga. Sempet bilang juga ke anak-anak, tapi ya daripada nanti ngrepotin,sama inget kata orang-orang : kalo ngga yakin, jangan.
Dengan makan seadanya tadi, dan minum tinggal dikit yang dibagi rata, mereka berangkat tanpa diriku hiks.


***
Sabtu, 22 Agustus 2015.
Yang terjadi setelahnya adalah, aku tidur di tenda tetangga bareng mbak pendaki rombongan lain yang kebetulan juga ngga ikut naik (dari jawa barat). Sekitar jam 2 an, temen mbak (lupa siapa namanya) ini balik karena ngga kuat naik, dianterin temennya. Yah sedikit bersyukur karena ngga jadi ikut naik, jadi ngga ngrepotin kan. 

Tadi mereka bilang estimasi waktu muncak sekitar 12 jam. Harusnya jam 11 mereka udah pada balik tenda lagi. Sampe jam 12 belum ada baunya itu anak-anak, mulai cemas. Kira-kira kenapa ya? Airnya tadi dikit gitu kalo dehidrasi gimana ya? Jangan-jangan kena hipo? Duh! Udah macem mak-mak nungguin anaknya balik dari rantauan.  

Kira-kira sekitar jam setengah 2, kaymal balik, disusul joseph. Muka udah coreng moreng rupanya, item disana sini, bibir pecah-pecah, mulut juga banyak pasirnya, tragis pokoknya- langsung tepar. Waktu kutanya mana yang lain, katanya masih dibelakang jauh. Huft.

Kira-kira sejam kemudian, mulai dateng anak-anak lain. Ternyata mereka sempet istirahat di ground camp yang sebelah sana (pokoknya disana). Muka mereka nggak jauh beda sama Kaymal Joseph, yang paling tragis, Rheja datengnya dibopong! Chyko dateng-dateng misuh-misuh marah-marah ngata-ngatain Kaymal Joseph.
 
 
(bukti teparnya Rheja)




Jadi ternyata ceritanya gini : Mereka semua kehabisan minum, dan bisa bertahan dari minta-minta minuman pendaki lain. Bahkan Rheja naiknya ketinggalan jauh, dia sempet ambruk di tengah jalan. Dehidrasi dan kecapean (akhirnya kita nyimpulin dia mabok Royco-inget sup yang dibikin Joseph dkk kemaren? Nah itu ternyata isinya cuman air Royco).



(oleh-oleh dari puncak)

Kita-mereka lebih tepatnya- istirahatin badan dulu sebelum balik. Rencananya kita langsung balik (tanpa camping lagi) soalnya Minggu (besok banget) ada Rakom elemen kaderisasi.

Sekitar jam 5 mereka bangun, siap-siap balik. Sementara yang lain beres-beres, Ujang sama Mas Gaza ambil air ke sumber mani. Buat ngurangin muatan, beras yang ngga sempet dimasak kita kasihin ke mas-mas tenda sebelah (dari Padang).

Akhirnya kita bener-bener mulai jalan waktu langit udah gelap. Entah kenapa trekking balik ini kerasa lebih horror-gelap, dingin, dan udah capek. Sepanjang perjalanan kita cuman diem aja, sambil terus doa dalam hati. Buat mengantisipasi ada yang ketinggalan, kita berhitung setiap istirahat dan mau jalan. Urutan jalannya juga diusahain tetep sesuai hitungan. Yang lemah kaya ane ini, di tengah, biar ngga ketinggalan dan ngga terlalu ngehambat juga.

Oro-oro ombo yang kemaren siang keliatannya cuman padang gersang yang ngga berbahaya, malem itu jadi ngga bersahabat sama sekali. Sepanjang mata memandang cuman keliatan padang luas, ngga ada rombongan lain yang lagi trekking. Otak mulai parno, mikir macem-macem. Kalo ada macan lagi berburu gimana? Kalo kita diserang gimana? Kalo kalo kalo gimana? 

Trekking setelah oro-oro ombo yang tadi siang aman-aman aja, juga jadi keliatan lebih sempit lagi jalannya. Harus bener-bener focus biar ngga jatuh.
Sampe di Ranukubolo, kita istirahat bentar. Beli makan, isi tenaga juga isi air. Entah jam berapa sekarang, pokoknya kita ngga boleh lama-lama berhenti.
Lanjut jalan lagi, beberapa kali ketemu rombongan pendaki lain. Bahkan ada mba-mba yang semangat banget teriak-teriak nyemangatin rombongannya, buseeeet.

Malam makin larut, tenaga kita juga ikut menyurut. Sayup-sayup denger suara cewe ketawa, mulai merinding, tapi yang lain diem aja yaudah jadi ku kira yang denger cuman aku, atau semacam halusinasi orang nagntuk dan capek. Sepanjang perjalanan cuman diem sambil komat kamit baca doa apapun yang bisa diinget. Kaymal entah kenapa yang tadinya biasa aja sekarang tiap nglewatin pohon gede atau batu, jadi permisi ngucap salam. Yang lain ikut-ikut juga. Waktu istirahat juga masih diem aja, duduk sambil ngeliatin atas, entah nyari apa hehehehe. Waktu kita lanjut jalan, suara yang tadi masih kedengeren terus, seolah-olah ngikutin. Tapi masih belum ada yang ngomong bahas ini, aku sendiri mau nanya ke yang lain juga takut. Sayup-sayup lirih, makin keras, lirih lagi, udah gitu terus. entah itu suara apa, yang jelas suaranya mirip banget kaya suara kuntilanak di film-film horror. Dalem hati cuman bisa mbatin pura-pura itu suara burung.

Akhirnya waktu udah keliatan rumah, kita lari, ngga sabar pingin cepet istirahat. Minum dan bersihin muka pake air sumber di deket gapura selamat datang (deket tempat kita beli sarung tangan). 

Langsung pada istirahat di padepokan, sambil nunggu ujang yang nyariin jeep. Setelah setengah jam-yang kerasa lamaaaa banget-nunggu, jeep kita dateng juga. Langsung naik, cus pulang. Nah di jalan baru pada berani buka mulut “kalian tadi denger ga?” “suara cewe ketawa” “iya ngikutin, dari yang pelan sampe kenceng ngikutin terus” jadiii ngga cuman ane yang denger suara cewek itu, ternyata kita semua juga denger, dan pada ngga berani ngomong, hahahahaha. Dan baru tau juga, kata Mas Gaza tadi sewaktu udah mau sampe padepokan dia sempet denger suara langkah kaki dibelakangnya, padahal dia orang terakhir, hiiiiiiiiiiiii horror.
Sepanjang perjalanan topik yang di bahas masih seputar suara tadi dan kejadian-kejadian horo lain sepanjang perjalanan.

Sampe di rumah kaymal kita bersih-bersih badan, langsung siap-siap balik. Ngga sempet istirahat dulu, soalnya udah dikejar waktu.
Akhirnya kita sampe kontrakan Hadi sekitar jam 7. Pulang dengan badan capek, muka lusuh, kering pecah-pecah, kondisi kelaparan. 

Tapi satu hal, aku yakin setelah perjalanan ini kita bukan lagi orang yang sama, minimal seminggu ke depan. Kita -aku- jadi orang yang lebih bersyukur bisa mandi, bisa makan enak dan kenyang, bisa tidur di kamar yang nyaman. 


(salam dari puncak tertinggi Jawa)

InsyaAllah, nanti suatu hari, aku bakal nyusul juga. Amiiin