Jumat, 22 Juni 2018

Rindu

silakan diseduh :) Rindu- Banda Neira 

Rumah kosong sudah lama ingin dihuni
Apa kabar hati? Yang hari-harinya pucat tanpa rona. Mungkin dia butuh sedikit kopi (atau lagu-lagu motivasi?).
Tengoklah, langkahnya lunglai, arahnya hilang.
Sayu matanya, kusut rambutnya, tidak tau dimana atau pada siapa harus berhenti.

Adalah teman bicara, siapa saja atau apa, siapa saja atau apa
Mungkin seorang teman, yang padanya ia merasa menemukan (atau ditemukan?), yang bukan suatu kebetulan garisnya bersinggungan.
Atau teman tadi, juga tak apa jika sekedar menawarkan tumpangan.  
Atau boleh jadi seekor camar, yang sekedar bertanya kabar.
Dinding pun, kalau memang ijinkan, barangkali dia akan numpang bersandar, cukuplah sebentar. 

Jendela, kursi, atau bunga di meja
Atau sebuah rumah. Yang padanya ia ingin selalu kembali setelah berkelana mencari diri.  Atau bahkan tidak ingin sama sekali pergi.
Dengan tiangnya menawarkan perlindungan. Dan berandanya menjanjikan kehangatan.
“Mungkin di ujung jalan itu” katanya.

Sunyi. Menyayat seperti belati
Coba tengok kantung-kantung bajunya. Mungkin di sana tersimpan jiwanya, usang dan berdebu. Debarnya samar-samar, menunggu ditemukan.  

Ia sedang rindu. Pada siapa tepatnya iapun tak tahu.
Mungkin di suatu senja, tibalah dia di ujung jalan itu. Kemudian akan datang seorang tamu- teman yang telah lama ia rindu.   
Pada waktunya yang kosong akhirnya terisi. Menunggunya tak perlu lebih lama lagi.

Kamis, 21 Juni 2018

3


Teruntuk tigabelas, tiga satu, kesayanganku.
Aku sedang jatuh cinta sekaligus patah hati.

Aku jatuh cinta,
lewat secangkir kopi yang kita seduh dari gelas bekas botol Aqua,
lewat semangkuk mie yang kita makan rame-rame,
bahkan lewat tembok tol yang pernah kita panjat bareng-bareng.

Pada hari-hari terik dan hujan, pada malam-malam panjang, pada senja dan fajar, sunset dan sunrise (pas nulis ini aku inget lagunya Family of the year, The Stairs yang liriknya begini “They made the sunrise for people like us, so we have an excuse as to why we still up”), pada bintang-bintang yang pernah kita rayu lewat lagu-lagu romansa, pada ombak-ombak yang menawarkan tawa (sekaligus menyapu HP, sandal dan tenda kita), pada gemerincing air terjun yang pernah sekali meredam tangis dan tawa kita.

Dari air terjun, kemudian gunung, lalu pantai, hutan, pantai lagi, hutan lagi, gunung lagi, atau sekedar rooftop gedung AJ, Mcd Mulyos, dan bangku-bangku DPR,  kita saling menemukan.

Lalu kemudian aku patah hati.
Aku patah, kalau ingat sudah H-berapa (4 bulan kah?)
Aku patah, karena satu-satu dari kita nantinya tidak akan saling sapa lagi.
Aku patah, karena kenyataannya (mungkin) hanya aku yang sepatah ini, dan kalian tidak.

Aku pernah jatuh, aku pernah patah.
Aku pernah diabaikan, aku pernah ditinggalkan, atau hanya dicari saat dibutuhkan.
Dan beruntungnya kalian, aku tetap tinggal meski berkali-kali tanggal (Yes I was that stupid)
Kan kalian paham aku memang se-naïve itu.

Tapi tetap, terimakasih.
Karena telah menjadi pilar dan pijakan yang menguatkan.
Terimakasih, untuk pundak, lengan, telinga dan waktu yang kalian sediakan.

Terimakasih, telah bertahan 3 tahun dengan kebawelan, ke-alay-an, dan kebaperanku yang kelewatan.
So, Happy anniversary Dear, by your side or from the distance, I will still love you.

Sincerely, your baperan girl.
16 Mei 2018.

Sebuah perayaan untuk umur ke-3


Nb: ini lagu yang aku maksud di atas the stairs- family of the year

Senin, 19 Maret 2018

Sebuah Warisan dan Sebuah Pilihan

Aku pernah punya opini atau mimpi atau angan-angan -you named it lah-kalo nanti aku punya anak, hal dasar yang akan selalu kutanamkan pada mereka adalah, bahwa ibadah itu bukan sekedar kewajiban, melainkan sebuah kebutuhan. 

-------------------------------------------------

Aku lahir dari keluarga muslim yang biasa saja. Maksudnya ngga alim-alim banget. 
Dari kecil diajarin agama, selain di rumah, di madrasah juga.

Aku sholat, lebih karena memang sebuah rutinitas dan perintah. Dulu pas masih SD, suka ngutang juga. Jadi misal aku ngantuk atau males sholat isya', bakal bilang ke ibu kalo sholatnya diutang. Ibu, meski rada ngomel, akhirnya ngebolehin juga. Terus besoknya bakal dibayar, sholat isya'nya didobel gitu. Entah ini aturan dari mana hehe. Tapi itu cuman bertahan sampe kelas 4 SD kok. Setelah itu, bakal dimarahin ibu kalo males sholat.

Aku puasa ramadhan, dari SD kelas 1. Awalnya TK disuruh puasa ngga mau, takut mati soalnya. Kemudian SD kelas 1 mulai puasa setengah hari, buka puasanya pas adzan dhuhur sama adzan magrib. Kelas 2 alhamdulillah udah bisa full sehari, tapi masih bolong-bolong, banyak alesannya. Lagi-lagi, karena disuruh.

Sudah belajar baca Al Qur'an dari TK. Pertama kali khatam pas kelas 4 SD kalo ngga salah. Setelahnya baca Qur'an cuma pas malem jumat karena disuruh ibu, sama pas bulan ramadhan karena diajakin temen-temen tadarusan di masjid. 

Aku rajin puasa senin-kamis dari kelas 5 SD, karena dulu mepet ujian kelulusan kelas 6. Dan keterusan sampe sekarang karena memang sudah jadi rutinitas. 

Sewaktu kelas 3 SMA, aku rajin sholat dhuha, karena ikut teman-teman lain yang juga sholat dhuha, dan tirakat buat ujian kelulusan. 

Dibebaskan untuk memilih berjilbab atau tidak, dan baru memutuskan berjilbab yaitu ketika SMP, itupun hanya ketika les. Kemudian lanjut sampe SMA karena sudah terbiasa, itupun masih sering buka tutup.


Selama ini ibadah-ibadahku lebih karena disuruh, kemudian jadi rutinitas. Atau karena ikut-ikutan. 
Bisa dibilang tanpa jiwa. Sholat yang hanya sekedar menghapal dan menghadapkan badan, tidak menyertakan hati. 
Puasa yang hanya menahan lapar, dan mengharap pahala penghapus dosa.
Sekedar membaca Al-Qur'an, tanpa memahami maknanya. 
Agar tidak dimarahi, agar mendapat pahala, takut masuk neraka.
Agama warisan. Islamku adalah sebuah warisan dari orang tuaku.

-------------------------------------------

Kemudian baru ngerasain kebutuhan untuk beribadah pas tinggal jauh dari orang tua, pas kuliah.
Tidak bisa dijelaskan dengan logika memang, tapi ada semacam perasaan tenang ketika beribadah. 
Karena sering homesick, kalau berdoa jadi lebih lama. Homesicknya tetep ngga ilang memang, tapi jadi lebih tenang. 
Kalau musim ujian, tahajudnya dirutinin. Ngga jadi lebih apal rumus memang, tapi ada semacam perasaan 'pasrah' apapun nanti hasilnya. 
Pas panik sebelum ujian, baca AL-Fatihah, baca doa-doa, sholawat, berdzikir, segala macem doa dibaca. Entah kenapa, paniknya bisa mereda.
Kalau pulang naik motor sendiri, takut kena begal atau takut kenapa-napa di jalan, dzikir terus sepanjang jalan, bisa tenang dan pasrah juga. Seenggaknya kalo memang harus mati saat itu, mati dalam keadaan mengingat Allah, pikirku.
Kalau malem-malem di tempat serem, takut sama hantu (aku emang cemen hehe), baca ayat kursi, takbir, istighfar, sholawat, apapun yang bisa diinget dibaca. Dan entah kenapa bisa jadi lebih "tatak wes, ngga bakal ada pocong disini"
Kalau lagi galau banyak pikiran, entah kenapa baca Al-Qur'an bisa bikin tenang. 
Kekuatan dari mana? Tidak tahu, tapi pasti hubungannya dengan kepercayaan. 

Ngga ada yang nyuruh sholat lagi, ngga ada yang bangunin tahajud, ngga ada yang ngingetin puasa, tapi tetep dilakuin. Karena sadar akan sebuah kebutuhan, atau masih karena sebuah rutinitas?

Kemudian hidayah (entah apa namanya) itu datang. Ngga seketika, secara berangsur-angsur. Karena ikut mentoring keagamaan, jadi punya lingkungan yang bisa dibilang islamnya baik. Kemudian kenal sama Fira, junior di kampus yang berpakaian syar'i dan aku jadi pingin juga. Mulai komitmen untuk pake rok, awalnya dari hari jumat aja.

Kemudian tiap sholat doa, semoga didekatkan dengan orang-orang yang bisa ngebimbing menuju lebih baik. Akhirnya sama Allah dikenalin sama Anisa, anak statistika angkatan 2015. Kenal karena ngrajut, tapi jadi temen baik juga. 

Kemudian kenal sama mbak Miw teknik industri angkatan 2013, dari pemandu. Baik dari Fira, Annisa, maupun mba Miw aku belajar banyak hal. Dari mereka aku terinspirasi buat lebih sempurna lagi nutup aurat. (Yang ternyata susah banget ya Allah. Banyak banget godaannya.)
Kemudian mulai belajar islam lebih dalem lagi, ikut mentoring sama Mba Renda, sering diskusi juga sama temen-temen yang lebih paham.

Ada momen-momen juga yang bikin bener-bener tertampar.
Adalah ketika semester 4. Lagi Sholat magrib jamaah di manarul, baru rakaat kedua tiba-tiba sedih banget sampe ngga kuat nahan tangis. Sholat sambil sesenggukan, lalu setelahnya nangis sejadi-jadinya. Ngga tau kenapa, tiba-tiba ngerasa takut, dan sedih banget yang ngga bisa dijelasin.

Pernah juga sewaktu baca buku Muhammad karya Martin Lings, ada satu bagian yang menceritakan kejadian sewaktu dada nabi Muhammad dibelah oleh Jibril dan diangkat seluruh dosa-dosanya. Disitu aku nangis lagi sejadi-jadinya. Pernah juga baca postingan di Line, yang menceritakan kisah wafatnya rasul yang diratapi seluruh umat Madinah, lagi-lagi aku nangis. Karena apa? Aku tidak tahu.

Akhirnya dari yang tadi sekedar rutinitas, mulai dimaknai, mulai pakai hati.

Aku masih belajar juga, hal-hal yang aku tau tidak bisa kudapatkan dengan berdiam diri, mulai ku kejar.
Tapi jujur aku takut, aku takut mempertanyakan hal-hal yang diluar batasanku.
Aku yakin bahwa islam benar. Aku meyakini bahwa islam benar, hanya karena aku belajar tentang islam. Aku terlalu takut untuk membuktikan bahwa selain islam adalah kurang benar.

Tapi seandainya aku diberi pilihan untuk menentukan sendiri agamaku, aku yakin akan tetap memilih Islam.
Karena Islam adalah sebuah pilihan.
Bukan lagi sebuah warisan.
Aku memilih sendiri untuk menjadi seorang mukmin.

Kamis, 01 Februari 2018

Balikpapan dan ceritanya


Sepertinya aku mulai jatuh cinta dengan kota ini.
Aku jatuh cinta pada 22 dari 36 hari yang ku lalui. Pada 8 jam setiap harinya. Pada 176 jam, atau 10.560 menit, atau 633.600 detik.

Pada rutinitas jam 7 pagi.
Pada tupai yang  melompati dahan pohon.
Pada rusa-rusa yang tiap aku lewat kalo gak lagi makan ya tidur.
Pada langitnya yang biru.
Pada hujannya yang deras dan tiba-tiba
Bahkan pada bisingnya mesin kilang dan bau minyaknya.  

Pada mas Azmi Daryanto yang lebih suka nyebut dirinya ‘suport’ kita, tukang foto,  yang jawa banget, yang kita ikutin ke manapun dan hampir tiap hari ngajak sepedahan keliling lapangan dan nerangin ini-itu, yang ternyata seumuran dan gak sependiem yang awalnya kita kira.

Pada Pak Anas a.k.a Sunding yang suka ngajak kita jalan-jalan (literally jalan) lewatin pipa-pipa, yang juga nerangin ini itu ke kita, yang suka godain mas Azmi,

Pada Pak Sugeng yang suka ngajak nonton sinetron kalo lagi gaada kerjaan, yang suka cerita kisah horror, yang suka ngenalin aku ke setiap orang yang ditemuin dan bilang aku ponakannya SBY (entah guyonan dari mana)

Pada Pak Budi yang pernah bantuin benerin rante sepedanya Mas Azmi yang ku copotin

Pada Pak Elmi yang suka ngajak keliling naik mobil dan manggil kita ‘cewek-cewek’

Pada Pak Wowo suami Bu Nona yang pernah ngajak kita sarapan nasi kuning, yang pernah ‘dakwah’ ke kita soal kodratnya wanita,

Pada Mas Diki (yang menurutku leh uga) yang sebenernya gak kenal tapi suka nonton sinetron bareng kita, dan cuman tiga kali ngajak ngomong yaitu pas bilang “sering-sering bawa brownisnya mbak” dan “misi ya mau nyari helm yang ketinggalan” dan terakhir ngobrolin soal kuliah dan bilang “Mbak besok kesini lagi ngga? Pak Budi nitip brownis katanya” padahal pak budi diem aja, itumah dianya yang mau wkwkw

Pada Mas Andi Pratama Putra Listrik MA2 yang pernah ngajak kenalan dan ngajak ngobrol sambil nemenin jalan padahal dianya bawa sepeda, (btw mas Andi manis juga)

Pada Pak Rizky yang suaranya renyah banget dan selalu ninggalin kita karena sibuk,

Bahkan pada Mas Azwi yang jutek banget

Pada Pak Rahmat, Pak Karman, Pak Rodi yang gak terlalu kenal tapi baik pernah bawain pisang, kolak, telur rebus, dan singkong goreng

Pada Pak Sumi yang baik dan bersahaja
Pada Pak Nanang yang suka ngajak ngobrol
Pada Pak Yoga pembimbing kita –tapi jarang ketemu-, dan ternyata heboh banget wkwkkw
Pada Pak Wega yang jutek dan lucu dan gendut (pingin deh punya suami yang gendut kaya pak wega)
Pada Pak Alan yang manis sekali dan selalu tersenyum
Pada Mas Yusup yang suka lucu dan suka godain, yang pernah bilang ke aku “kamu artis ya? Kok kayanya wajahmu familiar.. sering liat, tapi dimana ya?”
Pada Pak Randy, Mas Aryo, Pak Mirza, Pak Adit, Mbak Dania, yang sebenernya kita jarang interaksi tapi baik juga.
Pada Pak Fajar yang suka ngasih makan hehe

Bahkan pada satpam ngeselin yang suka godain, yang tiap hari nanya apa kita (re: aku dan temanku) kembar, yang suka ngungkit-ngungkit waktu aku nangis gara-gara ribet ngurus surat ijin laptop

Hampir lupa, 
Pada Nisa yang setia nemenin berenang, 
Pada Dek Shinta yang cantik dan gemesin,
Pada Fauzan, Habel, Galang, dan Riski yang ngajak jalan2, 
Pada Habel lagi yang mau jemput malem-malem cuman buat ngobrolin hal-hal absurd,
dan pada Mas **** yang ngajakin nonton Dilan berdua tapi tidak mau ada orang lain yang tau (wkwk siap mas! Aman insyaAllah.. duh berasa jadi selingkuhan kwkwkw)

Terimakasih, Balikpapan
Rupanya bakal ada yang tertinggal disini.