Rumah kosong sudah
lama ingin dihuni
Apa kabar
hati? Yang hari-harinya pucat tanpa rona. Mungkin dia butuh sedikit kopi (atau
lagu-lagu motivasi?).
Tengoklah, langkahnya
lunglai, arahnya hilang.
Sayu
matanya, kusut rambutnya, tidak tau dimana atau pada siapa harus berhenti.
Adalah teman bicara,
siapa saja atau apa, siapa saja atau apa
Mungkin
seorang teman, yang padanya ia merasa menemukan (atau ditemukan?), yang bukan
suatu kebetulan garisnya bersinggungan.
Atau teman
tadi, juga tak apa jika sekedar menawarkan tumpangan.
Atau boleh
jadi seekor camar, yang sekedar bertanya kabar.
Dinding pun,
kalau memang ijinkan, barangkali dia akan numpang bersandar, cukuplah
sebentar.
Jendela, kursi, atau
bunga di meja
Atau sebuah rumah. Yang padanya ia ingin selalu kembali
setelah berkelana mencari diri. Atau
bahkan tidak ingin sama sekali pergi.
Dengan tiangnya menawarkan perlindungan. Dan berandanya
menjanjikan kehangatan.
“Mungkin di ujung jalan itu” katanya.
Sunyi. Menyayat seperti
belati
Coba tengok kantung-kantung bajunya. Mungkin di sana
tersimpan jiwanya, usang dan berdebu. Debarnya samar-samar, menunggu ditemukan.
Ia sedang rindu. Pada siapa tepatnya iapun tak tahu.
Mungkin di suatu senja, tibalah dia di ujung jalan itu. Kemudian
akan datang seorang tamu- teman yang telah lama ia rindu.
Pada waktunya yang kosong akhirnya terisi. Menunggunya tak perlu lebih
lama lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar